Aris menjelaskan, secara perhitungan, program MBG tetap memberikan keuntungan jika dijalankan sesuai standar. Namun, dia mengingatkan adanya potensi penyimpangan di lapangan.
"Jadi, tingkat indeks makan bergizi gratis yang sekarang ini ada sudah kita hitung ya secara matematik riil dan implementasi di lapangan dengan harga-harga yang ada. Bagaimana telur harga 1.400 ya bagaimana itu nasi 500 segala macam itu sudah ada profit kalau kita masak dengan benar," ucapnya.
Aris turut menyoroti praktik yang kerap terjadi dalam proyek, yakni pengurangan spesifikasi demi keuntungan lebih besar. Menurutnya, hal ini tidak boleh terjadi dalam program pangan untuk anak.
"Kalau ini kontraktor biasanya menurunkan spesifikasi. Semen harusnya 10 karung 10 sak hanya 5 sak. Makan bergizi gratis telur ikan lele daging yang harusnya sekian gram dipotong sekian gram. Jeruk kualitasnya yang tidak benar," ujarnya.