AHY mengakui tantangan global, seperti gejolak geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia, menjadi faktor eksternal yang harus diwaspadai. Bahan bakar yang menyumbang 40 persen dari total biaya operasional maskapai membuat pemerintah harus menyusun berbagai skenario mitigasi agar stabilitas sektor penerbangan tetap terjaga.
"Kita harus tetap membumi pada realitas dunia hari ini, termasuk bagaimana harga minyak global dan dinamika di Timur Tengah berpengaruh sedikit banyak pada industri penerbangan," jelas AHY.
Dalam peta jalan yang disusun, pemerintah juga berupaya mengintegrasikan kebijakan antar moda transportasi guna memastikan pemerataan aksesibilitas. Pemerintah optimistis transformasi yang dilakukan saat ini, jika dijalankan dengan konsistensi tinggi, akan membawa Bandara Soetta melompat lebih jauh di kancah internasional.
AHY menyoroti competitiveness atau daya saing adalah tolok ukur utama dari prestasi kualitas layanan suatu bandara. Peningkatan yang konsisten dari posisi 51 pada 2022 menjadi peringkat 25 pada 2025 merupakan bukti nyata transformasi ke arah yang lebih baik sedang berjalan.
"Secara bertahap kita melihat peringkat semakin kecil, bahkan kita punya ambisi untuk masuk ke 10 besar dan saya pikir ini feasible, bukan sesuatu yang terlalu jauh dari jangkauan kita," papar AHY.