“Jadi kotak amal itu ada di depan musala kita, jadi kuncinya sama dia (pelaku) dibobol. Dia ambil langsung ambil saja gitu. Kita juga baru tahu setelah salat Ashar, kita tahu ngelihat ada kunci gembok kita ada di bawah," ucap Ismail.
Ia memperkirakan jumlah uang di dalam kotak amal mencapai Rp2,5 juta. Uang tersebut biasanya digunakan untuk operasional musala.
“Ya itu sekitar mungkin per bulan itu sekitar Rp2,5 jutaan, kurang lebih. Karena kan kotak amal kita belum hitung juga. Itu buat operasional kayak bayar listrik, bayar air. Kan kita suka ada pengajian itu buat bayar transport ustaz-nya juga, buat kebersihan juga itu," ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Ismail mengapresiasi pendampingan dari LBH Perindo yang membuat pengurus berani menempuh jalur hukum. Sebab para pengurus tidak enggan melaporkan lantaran akan dikenakan biaya.
"Ya jadi kita lebih nyaman saja. Jadi kita nggak khawatir kan sesuai ya kita tahu kan itu kalau lapor ke polisi apa kan kalau nggak ada (uangnya) ya tahulah kita gosip-gosip itu gini," ucap dia.