"Harus dibahas secara mendalam dengan Komisi I DPR RI mitra TNI. Juga harus jelas dulu politik anggarannya, jangan sampai pembentukan Kodam justru mengurangi pos-pos lain yang juga penting dalam tubuh TNI," katanya.
"Juga SDM TNI AD harus dipersiapkan sehingga mencukupi penempatan di Kodam-kodam yang baru kelak. Seharusnya personel yang memegang jabatan di Kodam-kodam itu juga menguasai teknologi perang modern," imbuh dia.
Selain itu, kata dia prajutit TNI AD harus dipersiapkan menghadapi ketidakpastian ancaman ke depannya yang dapat terjadi. Berbagai jenis wabah penyakit dan kemungkinan munculnya perang modern, di mana semua menuntut kesiapan militer.
"Kualitas prajurit TNI juga harus ditingkatkan untuk mengawaki teknologi militer terkini. Seperti pemanfaatan Unmanned System, baik berupa robot maupun artificial intelligent, dan cyber defense," katanya.
Prajurit di perbatasan juga harus mendapatkan atensi lebih. Selain itu, kesiapan matra TNI juga harus mengacu pada ancaman yang ada, di antaranya karakter ancaman di masa depan didominasi oleh tingginya potensi gejolak (volatibility), ketidakpastian (uncertainty), kompleks (complexity), dan ambigu (ambiguity).