“Sementara itu, pada skala regional, Monsun Australia terpantau semakin menguat dan diprakirakan masih bertahan dalam beberapa hari ke depan, sehingga mendorong masuknya massa udara yang relatif kering dari Australia ke wilayah Indonesia. Dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia juga mengindikasikan bahwa beberapa daerah mulai berangsur memasuki masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau,” jelasnya.
Meski demikian, BMKG mengungkapkan potensi hujan masih dapat terjadi akibat pengaruh dinamika atmosfer lainnya. Di Aceh dan Sumatra Utara, potensi hujan dipengaruhi oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Mixed-Rossby Gravity (MRG) yang diprakirakan aktif pada periode yang berbeda.
Di Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan, potensi hujan dipengaruhi oleh aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial. Sementara itu, di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan, potensi hujan dipengaruhi oleh aktivitas gelombang Kelvin. Berbagai dinamika atmosfer tersebut dapat memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi yang mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut.
“Pada skala lokal, kondisi labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif terdapat di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur, Papua,” paparnya.
Berikut potensi hujan di wilayah Indonesia sepekan ke depan periode 17–23 April 2026: