Kondisi ini membuat tubuh seolah “tertipu”. Ketika lidah merasakan manis, otak bersiap menerima gula sebagai sumber energi. Namun, karena gula tidak benar-benar masuk ke dalam tubuh, respons yang muncul justru rasa lapar yang terus berulang.
“Lidah merasa manis, jadi otak siap-siap menerima gula. Tapi ternyata gulanya nggak masuk. Itu bisa bikin rasa lapar muncul terus,” ujarnya.
Fenomena ini disebut Budi sebagai efek “sihir” pemanis buatan, karena mampu mengecoh sistem tubuh secara biologis.
Dia pun mengimbau masyarakat untuk tidak mudah tergiur label rendah gula pada minuman kemasan. Menurutnya, rasa manis yang tetap kuat bisa menjadi indikasi adanya pemanis buatan.
“Kalau ada minuman kadar gulanya rendah tapi pakai pemanis buatan, itu bisa mengecoh tubuh,” katanya.
Budi menekankan pentingnya kesadaran dalam memilih konsumsi harian. Tidak hanya melihat klaim pada label, tetapi juga memahami kandungan yang digunakan dalam produk tersebut.
Di akhir penjelasannya, masyarakat diingatkan untuk lebih bijak dan kritis dalam menjaga pola konsumsi demi kesehatan jangka panjang.