Sesaji juga dipersembahkan saat pelaksanaan ritual, biasanya berupa sirih pinang, anak ayam, kambing, dan hewan-hewan besar berkaki empat, seperti sapi, kuda, dan kerbau. Sesaji ini menjadi sarana permohonan kepada para Marapu.
Salah satu upacara dalam konsep Marapu adalah kematian. Terdapat beberapa proses dalam upacara kematian, dimulai dari membangunkan, menguburkan, hingga mengantar ke negeri para leluhur, berikut penjelasannya:
1. Membangunkan
Menurut kepercayaan, mereka yang meninggal akan kembali ke negeri leluhur. Oleh karena itu jenazah harus disimpan dalam kondisi menunduk, menyerupai keadaan saat dalam kandungan. Membangunkan berarti membuat ruhnya kembali di dalam tubuh, sehingga dapat diberi sirih pinang dan makanan. Disiapkan pula hamba pengiring (pahapanggangu), seekor kuda yang dikorbankan yang dagingnya hanya diberikan kepada anjing dan babi, setelah itu penjagaan mayat seraya membunyikan gong siang dan malam sebagai tanda berduka.
2. Membuat Kuburan
Sebelum upacara pemakaman, keluarga harus menyiapkan kubur terlebih dulu. Kubur asli orang Sumba terdiri dari lubang bulat. Setelah diturunkan, jenazah ditutup dengan batu bulat kecil disusul dengan batu lebih besar. Kemudian dilindungi dengan batu besar yang ditopang empat batang batu sebagai kaki. Kuburan berkaki ini digunakan untuk kalangan bangsawan karena membutuhkan biaya mahal. Sementara rakyat biasa, kuburnya cukup ditutup dengan batu besar.
3. Mengundang
Memakamkan jenazah bisa dilakukan cepat atau lama, misalnya 2 sampai 6 bulan, bahkan tahunan hingga puluhan tahun. Sebelum dikubur, mayat disemayamkan di salah satu kamar rumah atau dikuburkan sementara tetapi tanpa upacara. Saat waktu penguburan sudah dekat, keluarga akan memberikan undangan kepada pihak-pihak terkait sesuai hasil musyawarah keluarga. Proses ini dilakukan dengan memperhatikan tata cara mengundang sesuai adat.