Melihat yang Tak Lagi Berarti Percaya: Krisis Kebenaran di Era Deepfake

iNews
Dr. Firman Kurniawan S. (Foto: Dok Pribadi)

Bekerjanya deepfake beserta ekosistemnya itu, dapat dengan mudah disaksikan dalam kecamuk perang antara Iran dengan Amerika-Israel yang berlangsung hingga hari ini. Kerap beredar video deepfake yang menarasikan dihancurkannya permukiman-permukiman sipil oleh luncuran peluru kendali. Luluh lantaknya tempat tinggal, diikuti penyebutan jumlah korban usia anak maupun warga yang tak bersalah. Walaupun pada akhirnya disadari merupakan konten manipulasi, namun telah berhasil mengaduk-aduk emosi khalayak. Produsennya, para pihak yang terlibat dalam pertikaian: Iran maupun Amerika-Israel. Tujuan diedarkannya deepfake semacam itu, adalah melunturkan dukungan pada pihak yang dianggap membabi-buta menghancurkan tempat-tempat yang tak seharusnya diserang. Timbulnya korban, memperdalam kegeraman. 

Deepfake juga diproduksi untuk menggelorakan keberhasilan serangan pada instalasi strategis lawan. Ini bertujuan memperkuat moral pasukan atas keberhasilan yang telah dicapai. Setidaknya memperbesar harapan meraih kemenangan. Deepfake jadi alat propaganda ampuh hari ini. 

Lantaran kerapnya peredaran deepfake di tengah perang itu, tanpa disadari keprihatinan pada krisis kemanusiaan tereduksi, jadi sekadar permainan tebak-tebakan global. Tebak-tebakan, “ini deepfake atau asli?” Ini nyata, saat beredar video-video Benjamin Netanyahu yang dikabarkan telah tewas. Tewas akibat serangan bertubi-tubi peluru kendali Iran. Untuk menepisnya, Perdana Menteri Israel itu dihadirkan lewat tayangan video oleh berbagai media berita. Judulnya seputar: “Netanyahu Asli atau AI?” Artinya tak pasti Netanyahu masih hidup atau tinggal formulasi AI-nya?

Propaganda yang memanfaatkan teknologi mutakhir di atas, bisa membangun kepercayaan ketika ekosistem penerimaan pabrikasi deepfake-nya, telah terbentuk. Ketiga unsurnya telah hadir. Penerimaan realitas palsu ini, justru mengacaubalaukan kepastian. 

Seluruhnya kemudian menjadi tantangan manusia hari ini. Yang bukan saja mengancam eksistensinya, akibat sistemnya yang makin sempurna dan siap mengambil alih peran manusia. Namun kekerapan kehadiran material manipulasi deepfake yang turut membangun realitas, memengaruhi kualitas keputusan manusia dalam menentukan jalan hidupnya.
    
Nadia Naffi, 2025, dalam “Deepfakes and The Crisis of Knowing”, menyebut kurang lebih: di dunia media sintetis tingkat lanjut, literasi AI bukan hanya tentang menggunakan perangkat AI, tapi tentang bertahan hidup dalam realitas yang dimediasi AI. Dalam keadaan ini, melihat dan mendengar bukan lagi berarti percaya. Pernyataan Naffi ini dapat ditafsir sebagai makin longgarnya kepastian. Kepastian yang dikacaubalaukan oleh kehadiran produk-produk manipulasi AI, berwujud deepfake. Kekerapan kehadirannya dinormalisasi sebagai kelaziman. Sementara tanpa kehadirannya, jelas ada perbedaan yang signifikan. 

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
57 tahun lalu

PM Israel Netanyahu kembali Muncul di Medsos Serukan Dunia Lawan Iran, Video AI?

57 tahun lalu

Netanyahu Posting Video Lagi, Netizen Soroti Manset Kemeja: Ini AI!

57 tahun lalu

Hasil FP2 MotoGP Brasil 2026: Ai Ogura Kalahkan Marc Marquez di Detik Terakhir!

57 tahun lalu

AS Tuding Pendukung Mojtaba Khamenei Palsu, Hanya Rekayasa AI

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal