Peristiwanya dicatat sebagai supremasi luar angkasa Amerika, walaupun lewat ungkapan diperhalus sebagai pencapaian seluruh umat manusia. Ini termenifestasi lewat penyataan Neil Amstring, "That's one small step for a man, one giant leap for mankind". Sebuah langkah kecil bagi manusia, namun lompatan besar bagi umat manusia.
Soal diperlukannya gambar sebagai sarana percaya ini, memang bukan hal baru dalam sistem berpikir manusia. Realitasnya dikonfirmasi oleh banyak psikolog, walaupun ada koreksi di sana-sini. Koreksi soal penglihatan, yang bukan satu-satunya sumber pembangun kepercayaan. Salah satunya, diungkapkan Nuala G. Walsh, 2023, lewat tulisannya: "Misjudgement: Why We Trust What We See vs. What We Hear. Tuning out voices that matter slowly degrades our decisions”. Disebutkannya kurang lebih, ribuan gambar di smartphone dengan aplikasi TikTok, juga Instagram, mampu merangsang otak. Hal yang terlihat lebih dapat dipercaya daripada yang didengar. Namun hal yang telah menjadi kelaziman khalayak ini, dapat menjadi kesalahan umum. Dengan hanya bertumpu pada penglihatan untuk percaya, dapat secara langsung menurunkan kualitas keputusan. Keputusan yang prosesnya mengabaikan hal-hal yang disediakan pendengaran.
Namun dari seluruh pernyataan itu tersirat khalayak biasa membangun kepercayaan, terutama dengan bertumpu pada penglihatannya. Kebiasaan ini dapat menyesatkan. Dengan mengandalkan penglihatan saja, informasi khas yang hanya dapat diterima masing-masing indera jadi terbendung. Ini yang dimaksud Walsh sebagai menurunnya kualitas keputusan. Sebab bisa jadi, informasi dari sumber lain justru memperbaiki, bahkan membatalkan informasi yang ditangkap penglihatan. Mengabaikan keragaman sumber informasi, berarti membiarkan realitas tak hadir utuh.
Hari ini pernyataan Walsh itu jadi relevan dengan kehadiran deepfake beserta ekosistemnya. Terdapat unsur ekosistem untuk menerima deepfake sebagai sarana pembentuk kepercayaan.
Pertama, teknologi berbasis AI yang makin sempurna. Ini menyebabkan formulasinya makin tak mudah dikenali dengan hanya mengandalkan mata telanjang. Juga, ketika hanya berbekal pengetahuan awam. Kedua, cara berpikir manusia yang telah mengalami perubahan, seiring membanjirnya informasi. Perubahan akibat adaptasi, untuk merespons cepat kedatangan informasi yang tak pernah berhenti. Dan ketiga, makin sempurnanya penerapan strategi penggunaan deepfake. Sering kali deepfake ditumpangkan pada konten dengan konteks yang telah diterima khalayak, bahkan ketika formulasinya tak punya acuan di dunia nyata.