Sebab, polisi awalnya mengatakan Brigadir Nopryansyah Yosua Hutabarat, 27 tahun, tewas pada 8 Juli dalam baku tembak dengan perwira junior lainnya di rumah atasannya Irjen Ferdy Sambo, Kadiv Propam Polri, setelah melecehkan istri Sambo secara seksual.
"Tetapi setelah keluarga Hutabarat mengklaim bahwa Brigadir J telah disiksa dan tubuhnya digali untuk autopsi kedua, narasi itu telah digantikan oleh versi peristiwa yang jauh lebih menyeramkan," tulis SMH.
Media ini juga menyoroti, beberapa jam setelah Presiden Jokowi kembali mendesak penyelidikan menyeluruh untuk melindungi reputasi polisi. Widodo dalam beberapa kesempatan menuntut transparansi atas kematian Brigadir J dan kembali menegaskannya kepada media pada Selasa, saat meninjau proyek pembangunan di Provinsi Kalimantan Barat.
“Sejak awal saya sudah katakan ini: Selidiki dengan tuntas, jangan ragu, jangan tutup-tutupi, ungkapkan kebenaran apa adanya,” ujarnya.
“Ungkapkan kebenaran apa adanya. Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan kepada polisi. Ini adalah hal yang paling penting. Citra polisi harus dijaga.”