Sahabat bertanya, "Musibah apakah wahai Rasulullah?" Nabi SAW menjawab, "Berpisah dengan bulan Ramadhan, sebab pada bulan Ramadhan doa dikabulkan dan sedekah diterima."
Jamaah jumah yang berbahagia
Jika bumi, langit dan malaikat bersedih dan menangis akan kepulangan Ramadhan, lantas bagaimana dengan kita?? Adakah diantara kita yang merasa kehilangan? Adakah di antara kita yang bersedih dan menangis akan kepergiannya? Ataukah jangan-jangan hati kita telah membatu dan air mata kita telah membeku.
Ataukah bahkan kita merasa bebas dan bergembira, bersuka ria, ketawa-ketiwi, seolah-olah amal shalih kita sudah paling banyak dan sempurna, seakan-akan, dosa-dosa kita sudah diampuni oleh Allah SWT.
Kita ingin Ramadhan cepat-cepat pergi meninggalkan kita, kita tidak sudi ia berlama-lama menginap, menjadi tamu di rumah kita. Inilah tabiat kita dengan Ramadhan, yang sangat berbanding terbalik dengan orang-orang salaf terdahulu, di mana ketika Ramadhan akan berakhir, mereka menangis, takut dan khawatir.
Mereka menangis karena tidak ada jaminan pasti, apakah dosa mereka telah diampuni dan amal mereka akan diterima oleh Allah SWT ataukah sebaliknya. Maka dalam ketakutan iru, kepada Allah mereka panjatkan doa.