Menurut Atalia, persoalan tersebut menjadi lebih serius karena pencipta lagu merupakan seorang bupati yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat.
Dia khawatir pesan dalam lagu tersebut dapat membentuk cara pandang publik terhadap perempuan apabila terus diperdengarkan tanpa kritik.
"Ini yang saya khawatirkan. Ketika narasi seperti ini datang dari seorang pemimpin, masyarakat bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar, boleh ditiru, bahkan dianggap bagian dari budaya," ujarnya.
Atalia mengingatkan, Indonesia saat ini sedang berupaya menghapus praktik diskriminasi dan budaya patriarki yang selama ini merugikan perempuan.
"Padahal, kita mati-matian menghapus budaya patriarki, menghilangkan berbagai stereotip yang merendahkan perempuan," tuturnya.