Menurutnya, ada dua macam kebahagiaan. Kebahagiaan yang bersumber dari Allah SWT dan kebahagiaan mental yang tercipta dari dalam diri sendiri.
"Dan sesungguhnya kebahagiaan itu sangat subjektif dan sangat situasional. Karena itu perkawinan ini berusaha menciptakan satu paradigma yang sama antara berbagai macam pihak," ujarnya.
Umar menjelaskan, kebahagiaan memang adalah hasil optimalisasi perjuangan. Namun terkadang, sambungnya, hal itu terhambat dengan definisi kebahagiaan yang dianut sendiri, misalnya kebahagiaan punya jabatan tinggi, harta melimpah, atau punya rumah mewah.
"Sesungguhnya kebahagiaan itu adalah definisi mental. Dan kita bisa merasakan puncak kebahagiaan manakala kita merasakan apa yang Allah berikan cukup untuk kita," katanya.