JAKARTA, iNews.id - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut, mempertahankan harga Pertamax di bawah harga keekonomian berpotensi membebani anggaran negara. Dana yang seharusnya dapat digunakan untuk berbagai program publik dikhawatirkan terpakai untuk menutup selisih harga bahan bakar minyak (BBM).
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Komdigi, Fifi Aleyda Yahya, mengatakan kenaikan harga Pertamax tidak terlepas dari dinamika harga minyak dunia yang dipengaruhi ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan energi global.
"Banyak yang bertanya mengapa harga Pertamax naik? Karena Indonesia tidak hidup sendirian. Harga minyak dunia naik akibat ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan energi global. Sebagai BBM non-subsidi, Pertamax memang mengikuti harga pasar," kata Fifi dikutip dari akun Instagram @ditjenkpm, Senin (15/6/2026).
Menurut Fifi, apabila harga Pertamax terus ditahan di bawah harga pasar, negara harus mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk menutup selisih harga tersebut. Padahal, anggaran negara juga dibutuhkan untuk membiayai sektor pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, hingga pembangunan.
"Jika harga Pertamax terus ditahan di bawah harga keekonomian, negara harus mengeluarkan anggaran yang semakin besar. Artinya, uang yang seharusnya bisa digunakan untuk sekolah, rumah sakit, bantuan sosial maupun pembangunan lainnya, akhirnya habis untuk menutup selisih harga BBM," kata Fifi.