Indonesia memperoleh keuntungan dari kapasitas produksi batu bara yang besar, yang relatif tidak terlalu terpengaruh oleh volatilitas harga minyak global. Selain itu, Indonesia tercatat sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia serta produsen gas alam yang penting.
Pada 2024, Indonesia berada di peringkat ke-13 sebagai produsen gas alam terbesar dunia dengan total produksi sekitar 2.465 miliar meter kubik.
Sebaliknya, laporan tersebut menunjukkan bahwa sejumlah negara maju seperti Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Belanda justru termasuk yang paling rentan terhadap gejolak energi. Ketergantungan tinggi pada impor minyak dan gas menjadi faktor utama, terutama di tengah ketidakpastian jalur distribusi global seperti di Selat Hormuz.
Temuan ini menegaskan bahwa diversifikasi sumber energi menjadi strategi utama dalam menghadapi tekanan global. Selain Indonesia, negara seperti India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina juga memperoleh manfaat dari struktur energi domestik yang kuat.
Sementara itu, beberapa negara lain meningkatkan ketahanan energi melalui pendekatan berbeda, seperti pemanfaatan energi nuklir di Prancis, Swedia, Swiss dan Republik Ceko. Adapun negara dengan porsi energi terbarukan tinggi seperti Brasil, Austria dan Portugal juga menunjukkan tingkat ketahanan yang baik.