Jejak Sejarah Pendidikan di Indonesia, Berawal dari Sekolah Katolik di Maluku

Ajeng Wirachmi
Tim Litbang MPI
Suasana sekolah di zaman penjajahan. (Foto: Istimewa/KITLV)

Setingkat SMP, pemerintah Belanda menyediakan HBS (Hoogere Burgershool) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwjs). Perbedaan keduanya terletak pada lama masa belajarnya. Jika HBS hanya menuntut siswa belajar selama 5 tahun, MULO hanya mewajibkan siswanya untuk bersekolah selama 3 tahun. 

Sisi positifnya HBS, siswa bisa langsung melanjutkan pendidikannya ke institusi pendikan tinggi setingkat universitas, tanpa perlu melanjutkan ke SMA. 

Data pada tahun 1915 menyebutkan, HBS hanya tersebar di beberapa kota seperti Semarang, Bandung, Surabaya, dan Jakarta (Batavia). Sementara itu, sekolah di zaman Belanda yang setingkat dengan SMA adalah AMS atau Algemeene Middelbare School.

Tokoh Pendidikan Indonesia

Tak lengkap rasanya bila tidak mengulas tokoh pendidikan yang paling berpengaruh di Indonesia jika membahas perkembangan pendidikan, terkhusus bagi para pribumi. Salah satunya Ki Hadjar Dewantara

Mengutip informasi resmi yang ada dalam laman Kemendikbud, Ki Hadjar Dewantara memberikan pemikiran bahwa pendidikan hanya bertujuan untuk menuntun kodrat yang ada pada anak-anak atau siswa. Dengan demikian, mereka mampu menggapai keselamatan dan kebahagiaan.

Editor : Maria Christina
Artikel Terkait
2 hari lalu

Bahlil Pastikan 30 Persen Tenaga Kerja Proyek Gas Abadi Masela Warga Maluku

3 hari lalu

Prabowo Yakin Proyek Gas Abadi Masela Mampu Dongkrak Kemakmuran Rakyat

5 hari lalu

Hasil Kajian: Biaya Pendidikan Ideal di RI Rp18 Juta per Anak per Tahun

13 hari lalu

Generasi AI Dimulai dari Bangku SD, Mengapa Critical Thinking Jadi Kunci?

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal