Meski begitu, dia menekankan bahwa angka IPK tidak cukup untuk merepresentasikan kualitas kandidat secara keseluruhan. Oleh karena itu, proses wawancara menjadi momen penting bagi HR untuk menggali lebih dalam potensi yang dimiliki pelamar.
“Saya akan tanya, ‘Selama kuliah ngapain saja?’ Karena IPK itu datangnya dari mana, itu yang penting,” ucapnya.
Lebih lanjut, Vina menyoroti kemungkinan bahwa IPK tinggi bisa saja hanya mencerminkan fokus pada akademik tanpa diimbangi pengembangan keterampilan lain. Kondisi ini dinilai menjadi perhatian bagi perusahaan dalam mencari talenta yang lebih adaptif.
Karena itu, perusahaan saat ini cenderung mencari kandidat dengan keseimbangan antara prestasi akademik, pengalaman, serta kemampuan interpersonal. Pendekatan ini dianggap lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang dinamis dan menuntut berbagai kompetensi.