“Kemudian yang kedua, soal relasi kuasa karena posisi Yosua adalah bawahan dari ibu PC atau dari FS. Jadi terlalu apa ya, nekat ya. Kalau itu terjadi nekatnya banget ya, dan sebenarnya dari posisi ibu PC masih bisa melakukan perlawanan secara normal umumnya ya, kan itu tidak ada,” kata Edwin.
Dia juga menyampaikan untuk kaitan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Yosua di Magelang terhadap PC, justru semakin memperkuat keganjilan itu. Ketika di Magelang, PC masih menanyakan kepada RR di mana Yosua. Jika PC memang korban, dan perempuan itu masih menanyakan keberadaan pelaku, menurut Edwin itu terbilang janggal. Apalagi, Yosua juga masih menghadap ke PC di kamarnya.
“Ini kan tergambar di rekonstruksi, bayangkan saja bagaimana kok korban dari kekerasan seksual masih bertanya tentang pelakunya dan masih bisa bertemu dengan pelakunya secara fisik di ruang pribadinya yang merupakan tempat peristiwa dugaan itu,” ucap Edwin.
Edwin juga menilai ada kontradiksi pada fakta di rekonstruksi tersebut. Jika PC mengaku sebagai korban pelecehan seksual, dia heran mengapa yang bersangkutan masih membiarkan Brigadir J tinggal di rumahnya pascadugaan peristiwa Magelang.
“Jadi itu juga menurut saya agak ganjil, karena bayangannya secara umum tentu kan yang mengalami kekerasan seksual akan mengalami trauma, depresi atau tidak mau bertemu, berkomunikasi dengan pelaku,” tuturnya.