Dia pun mengajak masyarakat untuk mengikuti keputusan sesuai keyakinan dan metode yang dianut, selama didasarkan pada kajian para ahli. Dia mengingatkan agar tidak menentukan awal Ramadan secara sembarangan tanpa dasar yang jelas.
“Yang terbaik adalah sesuai keyakinan kita masing-masing. Jadi kayak kalau yang yakin dengan metode yang diikuti oleh para ahli yang diikutinya itu menunjukkan bahwa bulan Ramadhan mulainya besok silakan saja. Tetapi kalau di sini kami yakinnya kalau sudah terlihat bulannya, insyaallah kalau sudah bila terlihat kapanpun itu kita hormati keputusan itu,” ungkap Yenny.
Lebih lanjut, dia menekankan bahwa baik metode hisab maupun rukyatul hilal sama-sama menggunakan pendekatan yang telah teruji. Karena itu, perbedaan yang muncul seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.
“Karena dipakai juga dengan menggunakan metode apa metode yang sudah teruji. Nah, jadi itu yang akan kita kita lihat karena kan memang namanya puasa bulan Ramadhan,” kata dia.
Di akhir pernyataannya, Yenny berharap umat Islam tetap menjaga persatuan dan saling menghargai dalam menyambut puasa Ramadan. Baginya, esensi Ramadan bukan hanya soal tanggal mulai, tetapi juga tentang kebersamaan dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.