Salah satu langkah yang dilakukan adalah transformasi 87 persen puskesmas di Indonesia menjadi Puskesmas Santun Lansia. Di Jakarta, hampir seluruh puskesmas juga telah bertransformasi menjadi Puskesmas Ramah Lansia yang didukung layanan terpadu rumah sakit.
Selain penguatan fasilitas kesehatan, pemerintah juga mendorong edukasi yang lebih luas bagi lansia. Edukasi tersebut mencakup kesehatan fisik dan mental, pemanfaatan teknologi, literasi finansial hingga pemberdayaan sosial agar lansia tetap aktif dan produktif.
“Namun, kita harus mengubah cara pandang kita. Lansia bukanlah beban, mereka adalah aset berharga bangsa yang kaya akan pengalaman, kearifan, serta menjadi teladan hidup bagi generasi,” ujar Dante.
Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, mengatakan upaya promotif dan preventif terus diperkuat untuk menjaga kualitas hidup lansia.
Salah satunya melalui program Cek Kesehatan Gratis yang mendorong deteksi dini berbagai penyakit. Pada tahun lalu, sebanyak 7 juta lansia dari total 34 juta lansia di Indonesia telah mengikuti skrining kesehatan.
Imran menegaskan, masyarakat perlu mulai menjaga kesehatan sejak usia produktif, terutama memasuki usia 40 hingga 45 tahun. Menurutnya, kualitas kesehatan saat usia lanjut sangat ditentukan oleh pola hidup yang dijalani jauh sebelum seseorang memasuki masa lansia.
“Pesan kedua adalah bahwa kita perlu menjaga kesehatan kita untuk bisa lansia sehat itu jangan mulainya umur 60 tahun ya. Jadi justru kita harus melakukan atau menjaga kesehatan kita itu pada usia 40, 45,” katanya.