Menurut saya, hasilnya kini kita jarang melihat pemimpin negarawan dan pemikir seperti Bung Karno, Hatta, Sjahrir, dan kawan-kawan. Yang muncul justru pemburu rente, pedagang politik bertransaksi jangka pendek, bahkan anak ingusan yang dipaksa menjadi pemimpin dengan merusak pilar konstitusi.
Try Sutrisno mencermati perjalanan dan pelaksanaan reformasi. Ke depan, reformasi tidak bisa lagi bertumpu pada prinsip liberal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dasar keindonesiaan. Beliau menekankan bahwa reformasi seharusnya berakar pada jati diri bangsa Indonesia, bukan sekadar perubahan yang terpengaruh gelombang liberalisasi dari luar. Semangat reformasi bukanlah westernisasi dan tidak boleh hanya menjadi retorika kebebasan, melainkan harus menguatkan integritas nasional dan nilai Pancasila.
Praktik demokrasi, dalam pandangannya, tidak seharusnya melemahkan nilai-nilai moral, etika, dan falsafah Pancasila. Demokrasi hanyalah sarana untuk mencapai tujuan kemerdekaan, bukan tujuan akhir kehidupan bernegara. Bagi bangsa besar seperti Indonesia, evaluasi dan peninjauan kembali terhadap praktik demokrasi dan kehidupan berbangsa sangat diperlukan agar tetap selaras dengan nilai dasar dan karakter bangsa. Dengan sistem yang liberal, jangan diharapkan menghasilkan pemimpin yang baik bagi bangsa karena semuanya serba transaksi demi kepentingan jangka pendek.