Phintraco Sekuritas menjelaskan, belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran telah mendorong harga minyak kembali naik setelah sebelumnya sempat terkoreksi. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran pasar terhadap peningkatan tekanan inflasi global maupun domestik.
Data menunjukkan inflasi Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen secara tahunan (year-on-year). Meskipun masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 1,5-3,5 persen, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan inflasi lebih lanjut apabila harga minyak bertahan tinggi dalam periode yang panjang.
"Potensi kenaikan BI Rate masih terbuka di tengah risiko peningkatan inflasi dan berlanjutnya depresiasi rupiah. Tren kenaikan suku bunga berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar saham," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Rabu (3/6/2026).
Selain faktor makroekonomi, investor juga menaruh perhatian besar pada pengumuman MSCI yang dijadwalkan pada Juni 2026. MSCI diperkirakan akan merilis Global Market Accessibility Review pada 18 Juni 2026 dan Annual Market Classification Review pada 23 Juni 2026.
Kedua laporan tersebut menjadi sorotan karena akan menentukan penilaian aksesibilitas pasar modal Indonesia bagi investor global serta status klasifikasi Indonesia dalam indeks MSCI, apakah tetap berada dalam kategori Emerging Market atau mengalami perubahan status.