JAKARTA, iNews.id - Harga telur ayam ras di tingkat peternak terus menurun sejak Maret 2026, dari Rp27.236 per kg menjadi Rp24.424 per kg pada awal Juni. Pemerintah pun menyiapkan langkah intervensi agar peternak mendapat keuntungan yang layak.
"Sekarang telur turun. Nah ini kami harus mengangkat lagi ini. Tugas kami harus mengangkat agar harga telur ayam di tingkat produsen bisa naik, tapi tetap harus kita jaga di hilirnya. Jangan sampai melebihi harga acuan yang kita tetapkan," ucap Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa dalam keterangan resmi, Kamis (4/6/2026) di Jakarta.
Menurutnya, tujuan pemerintah menciptakan harga yang wajar dan berkeadilan bagi seluruh pelaku dalam rantai pasok. Sebagai negara produsen unggas, Indonesia perlu memastikan peternak memperoleh harga yang layak agar tetap bersemangat berproduksi.
"Begitu kondisinya bergerak dinamis, pemerintah harus hadir dalam rangka mengendalikan harga, mengendalikan pasokan. Jadi prinsipnya begitu, sehingga kita berharap ke depan, harga wajar. Bukan harga murah ya, karena kita negara produsen, kita ingin swasembada, tentu kita harapkan adalah harga wajar," kata Ketut.
Komoditas telur ayam ras kembali mencatatkan deflasi pada Mei 2026. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi telur ayam ras pada April tercatat sebesar 4,29 persen dan meningkat menjadi 5,14 persen pada Mei.
Data pemantauan Bapanas menunjukkan harga telur ayam ras di tingkat peternak sempat mencapai titik kulminasi tahun ini pada Maret dengan rata-rata Rp27.236 per kilogram (kg). Namun setelah itu terjadi tren penurunan menjadi Rp25.719 per kg pada April, Rp24.688 per kg pada Mei, dan kembali turun menjadi Rp24.424 per kilogram pada awal Juni.