"Saya mengkritik soal layanan dasar negara. Dalam konteks ini misalnya Pertamax kemarin. Saya sudah mengatakan, kenapa sih pemerintah enggak sabar sedikit saja menahan gitu? Geserlah sedikit anggaran-anggaran yang lain itu digeser dulu ke Pertamax untuk menahan saja sebentar," kata Pangi di panggung Rakyat Bersuara.
Ia menilai kenaikan harga Pertamax otomatis akan membuat sejumlah kebutuhan pokok dan transportasi mengalami kenaikan harga. Namun ketika harga BBM kembali turun, harga barang dan jasa belum tentu ikut menurun.
"Ketika harga Pertamax itu dinaikkan meskipun dia non-subsidi, automatically harga kebutuhan pokok, transportasi yang lain itu akan naik. Pertanyaannya adalah ketika itu diturunkan apakah yang lain ikut turun? Kan tidak. Inflasinya terjadi di situ," sambungnya.
Dengan kenaikan harga BBM Pertamax saat ini menurutnya akan menambah kelas menengah jatuh ke kelompok miskin. Sebab dengan kenaikan harga tersebut, masyarakat kini beralih menggunakan BBM bersubsidi.
"Dengan konteks sekarang, saya mau menunggu beli Pertamax ya mikir panjang. Apalagi yang lain. Biar antre panjang pun enggak apa-apa karena memang enggak sanggup, enggak ada duitnya," jelasnya.
Menurutnya, migrasi pengguna dari Pertamax ke Pertalite justru berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah. Sebab, konsumsi Pertalite akan semakin besar seiring bertambahnya jumlah masyarakat yang beralih ke BBM bersubsidi.
"Sekarang apa yang terjadi? mungkin 20 persen atau berapa juta hari ini migrasi orang besar-besaran dari Pertamax ke Pertalite, karena memang enggak ada duit. Apa yang terjadi konsekuensi implikasi logisnya adalah, logikanya adalah Pertalite juga akhirnya membengkak itu beban subsidinya. Itu kan sama saja ujungnya," ucap dia.