Menurut Melki, tragedi kematian siswa ini mencerminkan kegagalan sistemik berbagai pihak, tidak hanya pemerintah daerah, tetapi juga pranata sosial lainnya.
“Kalau sampai orang mati model begini, berarti pemerintahan gagal, provinsi gagal, kabupaten juga gagal. Peranata agama dan budaya juga gagal,” katanya.
Gubernur NTT juga menegur keras Sekretaris Daerah Kabupaten Ngada karena dinilai lambat memberikan penjelasan terkait peristiwa tersebut. Respons pemerintah daerah yang tidak cepat membuatnya mengambil langkah sendiri.
“Saya WA kepala daerahnya, lama sekali respons. Akhirnya saya minta orang saya turun sendiri untuk cek. Jangan-jangan karena sudah biasa ada yang mati di sana, ini dianggap biasa. Padahal ini alarm besar bagi kita semua,” ucapnya.
Melki menilai kasus siswa SD Ngada bunuh diri merupakan kegagalan kolektif yang harus menjadi bahan introspeksi bersama.