Menurutnya, prinsip Bhinneka Tunggal Ika menjadi fondasi utama dalam merawat keberagaman tersebut. “Persatuan Indonesia bukan hasil penyeragaman identitas, melainkan kesadaran kolektif untuk hidup bersama dalam satu komunitas kebangsaan yang inklusif,” katanya.
Dalam konteks global, Fadli menilai kebudayaan kini menjadi instrumen strategis dalam membangun pengaruh dan posisi tawar sebuah negara. Dia mencontohkan fenomena Korean Wave dan dominasi narasi Hollywood sebagai bukti bahwa kekuatan budaya mampu membentuk citra bangsa sekaligus memperkuat diplomasi dan ekonomi.
“Fenomena Korean Wave hingga dominasi narasi Hollywood menunjukkan bahwa kekuatan budaya dapat bekerja secara berkelanjutan, bahkan ketika tatanan internasional formal mengalami erosi,” ujarnya.
Fadli meyakini Indonesia memiliki potensi serupa dengan kekayaan dan keragaman budaya yang dimiliki. Tantangannya, kata dia, adalah merumuskan strategi kebudayaan nasional yang terarah dan terintegrasi agar Indonesia mampu tampil sebagai pusat peradaban dunia.
Dia menegaskan Kementerian Kebudayaan memiliki peran strategis sebagai orkestrator dalam pemajuan kebudayaan nasional. Namun, agenda tersebut memerlukan keterlibatan kolektif seluruh elemen bangsa, mulai dari dunia pendidikan, komunitas, pelaku budaya, hingga pemanfaatan teknologi digital.