Dwi menjelaskan, pemerintah selama ini telah berupaya semaksimal mungkin menahan kenaikan harga BBM nonsubsidi agar tidak langsung membebani masyarakat dan mengganggu daya beli.
Dia menyebut, langkah tersebut dilakukan atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto yang ingin menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
“Kalau kita bicara negara-negara di kawasan, tetangga, sudah jauh lebih dulu mengalami kenaikan penyesuaian. Tapi kita tahu di April kemarin sesuai arahan Presiden, pemerintah, Pak Presiden masih mencoba untuk menjaga kestabilan ekonomi, menjaga daya beli masyarakat,” ucap Dwi.
Menurutnya, pemerintah bahkan sempat melakukan berbagai pembahasan dengan badan usaha milik negara (BUMN) maupun swasta untuk mempertahankan harga BBM RON 92 atau sejenisnya, meski tekanan harga minyak dunia terus meningkat.
“Makanya sempat ada diskusi dengan badan usaha baik itu BUMN ataupun badan usaha swasta untuk mempertahankan harga BBM nonsubsidi dalam hal ini Pertamax. Tapi seiring berjalannya waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis, ini para pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya,” tuturnya.