Penurunan IQ juga secara signifikan lebih menonjol pada pasien Covid yang dirawat di rumah sakit dan memakai ventilator, menurut studi tersebut. Defisit itu bahkan lebih besar daripada defisit yang tercatat pada orang-orang yang sebelumnya mengidap stroke dan melaporkan ketidakmampuan belajar.
“Skala defisit yang diamati bukannya tidak berarti; pengurangan skor komposit global 0,47 SD untuk subkelompok yang dirawat di rumah sakit dengan ventilator lebih besar dari penurunan rata-rata 10 tahun dalam kinerja global antara usia 20 hingga 70 dalam kumpulan data ini,” ujar para peneliti.
“Itu lebih besar dari defisit rata-rata 480 orang yang mengindikasikan bahwa mereka sebelumnya menderita stroke (−0,24SD) dan 998 yang melaporkan ketidakmampuan belajar (−0,38SD). Sebagai perbandingan, dalam tes kecerdasan klasik, 0,47 SD setara dengan perbedaan 7 poin dalam IQ.”
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang mengkhawatirkan antara penyakit Covid-19 dan berbagai fungsi kognitif yang lebih tinggi pada fase kronis awal. “Kendati demikian, masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan berapa lama defisit semacam itu bakal bertahan dan dasar biologis/psikologisnya,” kata Hampshire.
Peneliti Klinis di University College London Christina Pagel mengatakan, bencana bisa saja terjadi jika Covid terus menyebar tanpa terkendali.
“Saya khawatir sekali lagi kita menyaksikan bencana yang sedang berlangsung sambil menunggu bukti yang tegas. Bukti tegas tentang dampak jangka panjang, menurut definisi, membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Mungkin tidak akan pernah - tetapi sejauh ini, lintasannya menuju bukti yang lebih pasti, tidak kurang,” tulis Pagel di Twitter.