Para peneliti memperluas kuesioner untuk memasukkan pertanyaan yang berkaitan dengan dampak pandemi, termasuk kasus suspek maupun yang sudah terkonfirmasi Covid-19. “Juga perincian persistensi dan tingkat keparahan gejala, kondisi medis yang sudah ada sebelumnya yang relevan, dan ukuran depresi, kecemasan, serta stres pascatrauma,” kata mereka.
Para peneliti kemudian memerikas data dari 81.337 orang di seluruh Inggris dan disesuaikan dengan berbagai faktor, termasuk usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, bahasa pertama, dan variabel lainnya. Mereka menemukan, semakin parah infeksi Covid-19, semakin besar pula kemungkinan orang yang sembuh memiliki penurunan kecerdasan yang lebih besar.
Defisit kecerdasan paling signifikan ditemukan saat orang-orang sembuh dari Covid itu melakukan tugas-tugas memerlukan evaluasi penalaran, perencanaan, dan perhatian selektif. Studi skala besar sebelumnya juga menunjukkan, pasien Covid-19 menderita “kabut otak” lama setelah mereka pulih dari penyakit itu.
“Ketika memeriksa seluruh populasi, ada defisit paling menonjol untuk paradigma yang memanfaatkan fungsi kognitif seperti penalaran, pemecahan masalah, perencanaan tata ruang, dan deteksi target, begitu pula halnya dengan tes hemat fungsi yang lebih sederhana seperti rentang kerja-memori serta pemrosesan emosional,” kata peneliti.
“Hasil ini sesuai dengan laporan Covid panjang, di mana ‘kabut otak’, kesulitan berkonsentrasi dan kesulitan menemukan kata-kata yang benar adalah hal biasa,” ungkap mereka lagi.