"Saya melihatnya bahwa eh society is much more stronger than state. Jadi, masyarakat itu jauh lebih kuat dibanding negara itu sendiri. Tetapi kalau kesadaran untuk mengorganisasi bantuan kemanusiaan, kepekaan pada sesama itu justru tumbuh pada masyarakat, itu memberikan satu pesan penting bahwa kalau kita mampu mengorganisasi diri kita tanpa kehadiran negara, maka sebenarnya kita akan jauh lebih kuat," ujarnya.
Sukidi mengatakan perlawanan sipil akan muncul apabila kanal-kanal demokrasi terbendung. Pelawanan itu salah satunya terjadi di media sosial hingga akhirnya tidak mampu dikendalikan pemerintah.
"Ketika kanal-kanal aspirasi untuk perubahan itu mampet, putus, tertutup, maka yang terjadi adalah civil resistance, perlawanan sipil yang terjadi di jalanan, yang terjadi di ruang-ruang internet, ruang-ruang yang negara akhirnya tidak mampu mengendalikan dan mengontrol mereka," kata Sukidi.
Dia mengatakan perlawanan sipil itu terjadi bukan hanya disebabkan rasa frustrasi, namun juga kemarahan publik atas situasi yang tak kunjung membaik. Apalagi, menurut dia, pemerintah gagal mendiagnosis akar masalah bangsa.
"Kemarahan publik atas situasi yang memang tidak membaik dan pemerintah gagal dalam mendiagnosis akar masalah bangsa ini. Sebenarnya kemampuan untuk mendiagnosis akar masalah itu adalah separuh dari penyelesaian masalah itu sendiri," ungkapnya.