Tibalah rombongan di Pos 4, titik yang menjadi saksi bisu drama paling mencekam hari itu. Alih-alih kompak, pasangan suami-istri tersebut justru terlibat perselisihan. Sang suami bersikeras ingin melanjutkan pendakian hingga ke puncak, sementara sang istri meminta untuk segera turun kembali ke basecamp.
Di tengah pertengkaran yang memanas itu, sang bayi tidak bisa menunggu. Di tengah perdebatan orang tuanya, sang bayi mulai rewel dan menangis terus-menerus. Saat itu, cuaca di ketinggian memang terasa sangat dingin.
Tangisan bayi itu bukan sekadar rengekan biasa. Itu adalah sinyal tubuh yang mulai menyerah pada dingin. Pada bayi, hipotermia dapat ditandai dengan kulit yang terasa dingin dan terlihat kemerahan, serta tubuh yang lemas dan tidak mau menyusu atau makan. Tanda-tanda itu mulai tampak nyata.
Di saat yang kritis itulah, keberuntungan berpihak pada sang bayi. Ada anggota SAR yang sedang melakukan kegiatan SMR di sekitar lokasi.