JAKARTA, iNews.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi defisit APBN hingga 28 Februari 2026 tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau setara dengan 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut dinilai masih sangat aman dan berada dalam koridor perencanaan fiskal 2026.
Purbaya turut merespons adanya perbandingan dengan kondisi tahun lalu yang sempat surplus. Dia menekankan bahwa percepatan belanja di awal tahun adalah langkah sengaja agar dampak fiskal terhadap perekonomian bisa dirasakan masyarakat sejak dini, bukan hanya menumpuk di akhir tahun.
Strategi ini pun menjadi landasan optimisme pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi yang cukup ambisius.
"Jadi ada yang bilang tahun lalu kan surplus, selama 4 tahun ini defisit. Ya emang desain APBN kita defisit dan sekarang kita paksakan belanjanya lebih merata sepanjang tahun sehingga dampak belanja pemerintah dan lain-lain terhadap perekonomian lebih terasa. Itu makanya Pak Febrio berani bilang 6 persen masih bisa. Masih bisa ya? Mudah-mudahan masih bisa," ucap Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, Rabu (11/3/2026).
Dia menambahkan, lonjakan defisit APBN di awal tahun merupakan konsekuensi dari realisasi belanja negara yang tumbuh sangat tinggi, mencapai Rp493,8 triliun atau melonjak 41,9 persen secara tahunan (year on year/yoy). Anggaran tersebut difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendanai program-program prioritas.
"Jadi, belanja tahun ini memang kita percepat supaya ekonominya didorong dari sisi fiskal sejak awal tahun sampai akhir tahun secara lebih merata dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya," kata Purbaya.