"Jadi namanya adalah surviving entity atau satu entitas yang bertahan. Jadi, surviving entity yang akan bertahan adalah PT Multi Terminal Indonesia," kata Daud.
Melalui konsolidasi tersebut, pemerintah menargetkan terbentuknya ekosistem logistik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Penyatuan berbagai entitas diharapkan dapat memperbesar skala bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus mengurangi duplikasi fungsi dan biaya.
"Efisiensi pasti terjadi. Antara lain biaya-biaya overhead, itu pasti akan terjadi. Kemudian hal-hal yang dulunya biasanya di setiap perusahaan mengeluarkan, sekarang hanya dikeluarkan oleh satu perusahaan," kata Daud.
Langkah itu juga diharapkan mampu memperkuat daya saing industri logistik nasional. Dengan sistem yang lebih terintegrasi, biaya logistik Indonesia diharapkan dapat ditekan sehingga lebih kompetitif dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN.
Daud menyebut, dalam ekosistem baru ini, PT Pos Indonesia (Persero) mendapat peran sebagai salah satu perusahaan utama yang akan memimpin transformasi. Sebab perseroan ini memiliki infrastruktur yang memadai untuk mendukung integrasi layanan logistik nasional.
Menurut Daud, Pos Indonesia saat ini didukung 5.597 titik layanan yang menjangkau seluruh Indonesia, armada sebanyak 8.032 unit, serta jaringan layanan ke lebih dari 220 negara. Perusahaan juga melayani lebih dari 2,2 juta pelanggan dan memproses lebih dari 300 ribu paket setiap hari.
Dia memastikan proses integrasi akan dilakukan secara bertahap dengan mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) dan manajemen risiko sehingga tidak mengganggu layanan kepada pelanggan.