Usai dimarahi komandannya, Royadin bertugas seperti biasa. Dia juga ditertawakan oleh rekan-rekannya.
Pada sore hari, Royadin diminta untuk menghadap kepala polisi di kantor. Setelah sampai di kantor, sejumlah polisi menggiring Royadin ke ruang komandan atau kepala polisi.
"Royadin minggu depan kami diminta pindah," kata komisaris.
Royadin membayangkan menaiki sepeda menempuh jalan menanjak di pinggir Kota Pekalongan setiap hari. "Saya sanggup setiap hari pakai sepeda Pak Komandan. Semua keluarga biar tetap di rumah sekarang," ucap Royadin.
"Ngawur kamu sanggup bersepeda Pekalongan-Yogyakarta? Pindahmu itu ke Yogya, bukan disini. Sinuwun yang minta kamu pindah tugas ke sana. Pangkatmu mau dinaikkkan satu tingkat," kata Komisaris.
Brigadir Royadin tidak sanggup menolak permintaan Sultan, namun ia ingin tetap tinggal di Pekalongan. Royadin juga heran orang yang ditilangnya malah memberikan penghargaan.
"Mohon Bapak sampaikan kepada sinuwun, saya berterima kasih. Saya tidak bisa pindah dari Pekalongan. Ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya kepada beliau dan sampaikan permintaan maaf saya kepada beliau atas kelancangan saya," kata Royadin.