Widji Thukul dikenal sebagai anak yang berbakti pada keluarga. Meski putus sekolah, dia berusaha membantu perekononomian keluarga dengan bekerja serabutan menjadi tukang koran, calo karcis bioskop, hingga tukang pengilap kayu di perusahaan perabotan.
Pada Oktober 1989, Widji Thukul menikah dengan Siti Dyah Sujirah dan dikaruniai dua anak, yakni Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah.
Widji Thukul dianggap sebagai musuh oleh pemerintah Orde Baru karena puisi-puisinya berisi sindiran. Puisi yang dibuatnya dianggap bisa mengobarkan semangat kelompok tertindas.
Pada 1994 di Ngawi, Jawa Timur, terjadi demonstrasi para petani dipimpin Widji Thukul. Karena demo tersebut, Widji Thukul ditangkap.
Pada 11 Desember 1995 terjadi demonstraski kembali, kali ini dilakukan para buruh pabrik garmen PT Sri Rejeki Isman (Sritex). Dalam aksi tersebut, Widji mengalalami cedera mata dan hampir buta.
Selain menggeluti dunia seni, Widji Thukul juga pernah menjadi jurnalis. Dia pernah menjadi wartawan Masa Kini selama 3 bulan yakni pada 1988. Sajak-sajaknya pun diterbitkan di media cetak dalam hingga luar negeri.