Ahmad Dahlan belajar tentang ide-ide reformasi Islam ketika berada di Mekah. Beberapa orang tersebut adalah Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Ia mengganti namanya dari Muhammad Darwis menjadi Ahmad Dahlan setelah menunaikan ibadah haji dan kemudian kembali ke Yogyakarta.
Sepulangnya dari Makkah, Ahmad Dahlan menikah dengan Siti Walidah. Istrinya pendiri Aisyiyah juga merupakan pahlawan rakyat. Ahmad Dahlan dan Siti Walidah dikaruniai enam orang anak.
Kemudian pada tahun 1903, Ahmad Dahlan tinggal di Makkah selama dua tahun. Ahmad Dahlan berangkat ke Tanah Suci untuk belajar bersama Syeh Ahmad Khatib yang juga merupakan guru KH. Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama.
Ide-ide reformis Islam inilah yang mempengaruhi Ahmad Dahlan untuk melakukan reformasi Islam di Indonesia. Ahmad Dahlan, selain berdakwah, merupakan pedagang batik dan anggota beberapa organisasi. Ia terkenal karena kepribadiannya yang suka berteman, toleran, dan berpikiran terbuka, serta berinteraksi dengan tokoh agama lain seperti Van Lith, seorang pendeta Katolik.
Pendekatan pendidikan menjadi fokus utama Ahmad Dahlan dalam berdakwah. Beliau menyadari bahwa persoalan pendidikan merupakan akar utama ketertinggalan umat Islam di Indonesia. Oleh karena itu, ia mendirikan organisasi Muhammadiyah pada tahun 1912.