Setelah kematian suaminya, Cut Nyak Meutia tidak gentar. Sesuai pesan suaminya, ia melanjutkan perjuangan, kali ini bersama Pang Nagroe dan pasukan Teuku Muda Gantoe. Dalam pertempuran di Paya Cicem, Pang Nagroe gugur, tetapi Cut Nyak Meutia berhasil selamat dan melarikan diri ke dalam hutan bersama wanita-wanita pejuang lainnya.
Perjalanan perlawanan Cut Nyak Meutia tak berhenti di situ. Meskipun pasukannya kecil, mereka tetap berusaha menyerang dan merampas pos-pos kolonial sepanjang perjalanan mereka ke Gayo melewati hutan belantara. Namun, pada tanggal 24 Oktober 1910 di pertempuran sengit di Alue Kurieng, Cut Nyak Meutia gugur akibat tembakan peluru di dada dan dikepala oleh tentara Belanda saat ia menolak untuk ditangkap.
Cut Nyak Meutia merupakan sosok pemberani yang melampaui ekspektasi perannya sebagai seorang perempuan pada zamannya. Ia tidak hanya menempuh perjalanan peperangan, tetapi juga memiliki pemikiran yang jauh dari perempuan pada umumnya.
Dikenal sebagai pejuang yang memiliki semangat juang tinggi, Cut Nyak Meutia bertempur bersama suaminya melawan penjajah Belanda. Meskipun harus kehilangan suami, ia tetap tegar dan memimpin pasukannya dengan tekad kuat.
Atas jasa-jasanya dalam memimpin perlawanan melawan penjajah, pemerintah Indonesia memberikan penghormatan dengan memberikan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1964.