Arum juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak ketiga yang hingga kini belum menerima pembayaran akibat proses administrasi yang masih berjalan.
“Itu yang menyebabkan kami mungkin minta maaf kepada seluruh pihak ketiga yang mungkin ada tagihan kepada BGN belum bisa semuanya kami laksanakan, kami bayarkan karena masih ada proses,” kata dia.
Agustina pun merinci tunggakan tersebut terdiri atas belanja bahan Rp16.119.536.548, sertifikasi SPPG Rp111.631.740.960, jasa konsultan Rp200 juta, sewa kendaraan insidentil Rp121.951.599, serta honor narasumber Rp812.968.500.
Selain itu, masih terdapat kewajiban pembayaran untuk jasa lainnya, termasuk event organizer (EO), publikasi, dan kebutuhan lain senilai Rp330 miliar. BGN juga memiliki tunggakan kepada Universitas Pertahanan (Unhan) sebesar Rp7.395.240.200, perjalanan dinas Rp684.395.463, serta tunggakan Banper MBG senilai Rp100.641.825.064.
“Nah ini mohon maaf kami mungkin masih banyak utang ke tempat lain, jasa lainnya, ada EO, publikasi dan sebagainya Rp330 M (miliar),” ungkapnya.
Belanja modal atau aset menjadi komponen tunggakan terbesar dengan nilai Rp1.040.990.661.519 atau sekitar Rp1,04 triliun. Secara keseluruhan, total kewajiban BGN mencapai Rp1,609 triliun.
“Totalnya Rp1,609 (triliun). Tapi InsyaAllah kami akan lunasi, kami akan selesaikan di tahun 2026 ini,” pungkasnya.