Menurutnya, dalam ilmu epidemiologi risiko, kondisi ini disebut sebagai 'double vulnerability'. Anak merupakan kelompok rentan, sementara gunung adalah lingkungan ekstrem.
"Jadi risikonya berlipat. Anak sudah rentan, ditambah lingkungan yang juga berisiko," jelasnya.
Ia juga menyoroti faktor kesalahan manusia yang kerap terjadi, seperti orang tua yang melebih-lebihkan kemampuan anak, jadwal perjalanan yang terlalu panjang, hingga kurangnya asupan nutrisi selama pendakian.
"Banyak kasus bukan karena alamnya, tapi karena human error dan salah menilai risiko," tambahnya.