"Kami berharap penghargaan ini dapat menjadi motivasi bagi perusahaan untuk terus berinovasi dan memperkuat strategi digitalnya,” ungkapnya.
Adapun penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah indikator, termasuk visibilitas digital, engagement, serta kekuatan brand positioning di berbagai platform online. Penghargaan ini menjadi indikator penting bagi perusahaan dalam menunjukkan konsistensi dan keberhasilan dalam membangun brand awareness di era digital.
Arief menekan soal tidak semua perusahaan yang masuk radar penilaian bisa lolos begitu saja. Hanya mereka yang menyentuh ambang batas nilai yang berhak melaju.
“Dari tiga parameter ini ada dua kriteria lagi setelah mendapatkan nilai skor minimal 70. Yaitu diambil 300 pemenang, dari berapa ribu hasil riset yang telah kami riset,” jelasnya.
Menariknya, industri asuransi yang dulunya identik dengan sistem pemasaran konvensional, kini mau tak mau harus beradaptasi habis-habisan dengan ekosistem digital. Arief menyoroti bahwa kehadiran teknologi kecerdasan buatan, seperti ChatGPT, membuat publik semakin gampang menguliti sejarah dan kredibilitas sebuah brand.
Bagi Arief, transparansi digital adalah pedang bermata dua. Jika layanannya buruk, netizen akan langsung tahu. Namun sebaliknya, jika perusahaan berkinerja apik, apresiasi publik akan mengalir deras dengan sendirinya.