JAKARTA, iNews.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan dirinya sebagai menteri yang tidak menyukai impor untuk pengadaan dan pemenuhan kebutuhan energi di dalam negeri.
Pasalnya, Bahlil mengatakan, di balik praktik tersebut terdapat celah korupsi yang bakal timbul di kemudian hari. Praktik rente atau pembayaran sejumlah uang dalam jangka waktu tertentu menjadi hal yang sulit terhindarkan dibalik skema impor.
"Karena saya menteri yang tidak suka impor-impor, aku jujur sajalah. Karena di situ setiap ada impor pasti ada potensi rente di situ. Ini yang membuat kita punya orang-orang terbaik di bangsa ini diperiksa oleh para penegak hukum," ucap Bahlil dalam acara Energy Forum di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Ketua Umum Partai Golkar itu menambahkan, peningkatan produksi dalam negeri dan bauran energi menjadi kunci utama memutus praktik impor yang selama ini dilakukan, dan tidak sedikit yang berakhir pada kasus hukum.
Dia juga mengakui bahwa kapasitas produksi dengan permintaan konsumsi memang belum seimbang. Kebutuhan bensin nasional terus meningkat dari 32,9 juta kiloliter (KL) pada 2021 menjadi 42,1 juta KL pada 2030.