4. Penghitungan dan Mayoritas Suara
Suara dihitung secara teliti oleh para pengawas yang ditunjuk. Untuk bisa terpilih menjadi Paus, seorang kandidat harus memperoleh suara dua pertiga plus satu dari jumlah Kardinal yang memberikan suara. Jika tidak ada kandidat yang mencapai mayoritas ini, pemungutan suara akan diulang. Proses ini dapat berlangsung selama beberapa hari hingga ada yang terpilih.
5. Asap Hitam dan Asap Putih
Setelah setiap putaran pemungutan suara, surat suara dibakar. Jika belum ada Paus yang terpilih, surat suara dibakar bersama bahan kimia yang menghasilkan asap hitam sebagai tanda kegagalan pemilihan. Sebaliknya, jika seorang Paus baru telah terpilih, surat suara dibakar dengan bahan kimia yang menghasilkan asap putih, menandakan keberhasilan konklaf dan terpilihnya Paus baru.
Setelah terpilih, Kardinal Dekan akan bertanya kepada kandidat terpilih apakah ia menerima jabatan sebagai Paus. Jika menerima, ia akan memilih nama kepausan yang akan digunakannya.
Paus baru kemudian mengenakan jubah putih dan muncul di balkon Basilika Santo Petrus untuk mengumumkan diri kepada umat Katolik dan dunia dengan kalimat legendaris: "Habemus Papam!" yang berarti "Kami memiliki Paus!".
Proses pemilihan Paus adalah perpaduan antara tradisi kuno, ritual sakral, dan aturan ketat yang bertujuan untuk menjaga kesucian dan integritas pemilihan pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Dengan mengetahui bagaimana proses ini dilakukan, umat Katolik dan masyarakat umum dapat lebih memahami makna dan pentingnya setiap tahapan dalam memilih Paus baru.
Bagaimana proses pemilihan Paus dilakukan merupakan gambaran dari tradisi panjang dan sakral yang menjadi fondasi pemilihan pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Proses ini tidak hanya mencerminkan kedalaman spiritual dan komitmen para Kardinal, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya menjaga kesucian dan integritas dalam menentukan sosok yang akan memimpin umat Katolik di seluruh dunia. Dengan memahami setiap tahapan dalam proses ini, kita dapat lebih menghargai makna dan nilai dari pemilihan Paus, yang bukan sekadar ritual, melainkan sebuah momen bersejarah penuh harapan bagi masa depan Gereja Katolik.