2. Terjadi saat Bulan Purnama.
Ombak besar terjadi bersamaan dengan bulan purnama. Karena itu, sejumlah lembaga seperti BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) semula memastikan ombak besar itu sebagai gelombang pasang dan bukan tsunami.
3. Fenomena Lokal.
Beberapa saat setelah ombak besar terjadi, BNPB menyatakan gelombang pasang itu sebagai fenomena alam lokal, yakni terjadi hanya di tempat tertentu, dalam hal ini Pantai Anyer. BNPB meminta masyarakat tidak panik, namun diimbau menjauhi aktivitas di dekat pantai. Belakangan, tsunami juga menyapu kawasan pantai Lampung.
4. Sejumlah Bangunan Rusak.
Sejumlah bangunan seperti rumah, toko, dan kios di sepanjang Pantai Anyer rusak diterjang ombak besar. Bahkan tanggul penahan air laut di sekitar Wisma Kompas juga hancur. Puing-puing bangunan berserakan di Jalan Raya Anyer, menjadikan pengendara harus hati-hati saat melintas.
5. Warga Lari ke Tempat Tinggi.
Ombak besar memicu kepanikan warga, apalagi beredar cepat kejadian itu sebagai tsunami. Di Anyer dan Lampung, warga berbondong-bondong menuju tempat tinggi untuk menyelamatkan diri.
6. Puluhan Terluka, Belasan Tewas.
BNPB mencatat hingga Minggu (23/12/2018) pagi, enam orang meninggal dunia akibat tsunami ini di Lampung. Adapun korban luka mencapai puluhan orang. Sebagian korban luka mengalami patah tulang karena terjatuh saat menyelamatkan diri. Korban meninggal juga dilaporkan terjadi di Pandeglang, Banten. Sejauh ini di Banten dilaporkan sedikitnya 14 orang tewas.