Kepunahan hewan ini banyak disebabkan karena ulah manusia dibandingkan faktor alami. Harimau Sumatera mampu bereproduksi kapan saja, dengan masa kehamilan 103 hari. Hewan ini mampu melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus.
Namun habitat tempat mereka tinggal semakin hari semakin sempit. Tak hanya itu, harimau sumatera kerap diburu manusia. Bagian-bagian tubuh harimau Sumatera sering beredar di perdagangan ilegal untuk dijadikan perhiasan dan dijual dengan harga yang tinggi. Jika hal seperti ini dibiarkan terjadi terus-menerus, harimau Sumatera diprediksi akan punah pada tahun 2050.
Hewan yang merupakan hasil pemecahan dari kakatua-kecil jambul-kuning ini memiliki nama lain Cacatua citrinocristata. Kakatua sumba memiliki perbedaan karakteristik morfologi, sehingga hal tersebut menjadi landasan utama pemisahan spesies kakatua sumba dari kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea).
Faktor penyebab burung ini masuk ke dalam kategori kritis atau terancam punah karena penggabungan dan juga pemisahan spesies burung. Perubahan seperti ini terus berlanjut dari waktu ke waktu seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan.
BirdLife International dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) berupaya dengan melakukan kajian ulang status keterancaman sejumlah spesies burung setiap tahunnya.