"Dalam tangisnya, ibu memberi isyarat bahwa kami tidak boleh ikut terlibat urusan orang tua. Aku sangat terpukul dengan kejadian ini," ucap Ganjar mengenang momen tersebut.
Setelah kejadian adu mulut itu, Ayahnya pamit kepada istri dan anak-anaknya untuk mencari rumah kontrakan baru. Tengah malam, kabar baik itu akhirnya datang. Ayahnya meminta seluruh anggota keluarga untuk bersiap-siap pindah keesokan paginya.
Ketika Ganjar Pranowo dan keluarga berpindah rumah, rumah yang ditempatinya bukan tambah baik, tapi justru lebih menyedihkan. Rumah kontrakan ini berupa bangunan berdinding tripleks dan beralas tanah.
Lokasinya berdekatan dengan sebuah gudang gamping. "Kami menempati rumah ini karena tak punya pilihan lain. Uang kami tak cukup untuk menempati rumah yang bagus," kata Ganjar.
Saat duduk di bangku SD, Ganjar Pranowo cilik bukanlah siswa dengan prestasi menonjol. Ketika SD, nilai rapornya pas-pasan, sesuai yang ditulis dalam buku "Kontroversi Ganjar".