Meskipun anggaran dasarnya tidak mencakup unsur politik, SI secara aktif terlibat dalam politik dan memprotes ketidakadilan dan penindasan pemerintah kolonial. Karena memiliki jumlah anggota yang besar, SI menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah Belanda, meskipun pada awalnya Gubernur Jenderal Idenburg menyatakan keberatan ketika SI mengajukan permohonan menjadi Badan Hukum.
Kiai Haji Samanhudi, yang memiliki nama kecil Sudarno Nadi, adalah pendiri Sarekat Dagang Islamiyah (SDI) yang kemudian menjadi Sarekat Islam (SI). Ia lahir pada tahun 1868 di Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah.
SDI didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 sebagai wadah bagi para pengusaha batik di Surakarta. Haji Samanhudi merasa perlu membentuk organisasi tersebut untuk memperjuangkan kepentingan pedagang pribumi yang dirugikan oleh kebijakan kolonial Belanda. Ia meninggal pada tanggal 28 Desember 1956 di Klaten, Jawa Tengah.
Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, yang akrab dipanggil H.O.S. Cokro Aminoto, adalah seorang pemimpin organisasi Sarekat Islam (SI) di Indonesia. Ia lahir pada tanggal 6 Agustus 1882 di Ponorogo, Jawa Timur, dan meninggal pada tanggal 17 Desember 1934 di Yogyakarta.
Cokro Aminoto bergabung dengan SI pada tahun 1912 dan menjadi salah satu tokoh pergerakan nasional. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan memiliki pengaruh dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.