4 Tokoh Sarekat Islam, Berawal dari Perkumpulan Saudagar Muslim hingga Jadi Organisasi Pergerakan Sosial Politik
Pada masa itu, usaha milik pedagang keturunan Tionghoa lebih maju dan memiliki hak serta kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk lainnya di Hindia Belanda. Hal ini menyebabkan munculnya kesadaran kaum pribumi yang dikenal sebagai Inlanders.
SDI adalah sebuah perkumpulan ekonomi yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam dengan fokus pada perekonomian rakyat. Di bawah kepemimpinan H. Samanhudi, SDI berkembang pesat dan menjadi organisasi yang dominan.
Pada tahun 1909, R.M. Tirtoadisurjo membentuk Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia, dan pada tahun 1910, organisasi serupa dibentuk di Buitenzorg. Di Surabaya, H.O.S. Tjokroaminoto mendirikan organisasi serupa pada tahun 1912 dan kemudian bergabung dengan Sarekat Islam (SI).
Pada tahun 1912, Tjokroaminoto terpilih sebagai pemimpinnya dan mengubah nama Sarekat Dagang Islam (SDI) menjadi Sarekat Islam (SI) agar organisasi tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang politik.
Keanggotaan SI terbuka untuk semua lapisan masyarakat Muslim, tidak hanya terbatas pada bangsawan Jawa dan Madura. Tujuan SI adalah memperkuat persaudaraan, persahabatan, serta saling tolong-menolong antar umat Muslim, serta memajukan perekonomian rakyat.