Situasi baru berubah ketika korban akhirnya memberanikan diri merekam kejadian tersebut menggunakan ponselnya dan berteriak meminta bantuan. Beberapa penumpang lain kemudian membantu menjauhkan korban dari pria yang diduga sebagai pelaku pelecehan seksual.
Namun korban menyayangkan bahwa dirinya saat itu yang justru diminta turun dari kereta oleh beberapa orang di dalam gerbong, padahal ia sedang terburu-buru menuju tempat kerja. Tapi, permintaan itu ditolak korban.
"Dan ada juga yang minta gua untuk turun, tapi pelaku tetap di KRL? Gua langsung bantah, ogah turun karena gua lagi buru-buru mau kerja dan harusnya pelaku dong yang turun?" kata korban, dikutip Rabu (11/3/2026).
"Gua gak tahu dia turun atau nggak, karena gua langsung dikasih seat dengan posisi gua yang gak bisa berhenti nangis sambil gemetar setelah ada kakak laki-laki blg 'Mba duduk aja di sana, orgnya lihatin terus soalnya'," tambah korban.
Akhirnya korban diberi tempat duduk oleh penumpang lain karena kondisinya yang masih syok dan menangis. Melalui unggahannya, korban juga menandai akun resmi KAI Commuter dan berharap ada perhatian lebih terhadap kasus-kasus pelecehan di transportasi publik.
Ia juga mengajak perempuan lain untuk lebih waspada dan berani melawan tindakan pelecehan. Korban menegaskan bahwa pengalaman seperti ini bukanlah aib bagi korban, melainkan musibah yang perlu disuarakan agar kejadian serupa tidak terulang.