"Tetapi yang paling penting adalah ini harus berkelanjutan, tidak boleh berhenti, karena inilah yang akan mengubah wajah Jakarta berkaitan dengan persampahan," ucap dia.
Adapun dalam kunjungannya ke Pasar Kramat Jati, Pramono peninjauan langsung pengolahan sampah organik di lokasi tersebut. Ia menyampaikan, peninjauan ini sebagai tindakan lanjutan dari program pemilihan dan pengelolaan sampah dari sumber.
Pramono menjelaskan bahwa Pasar Kramat Jati menghasilkan sekitar 5 ton sampah organik setiap harinya. Sampah itu nantinya akan diolah menjadi produk yang bermanfaat seperti pupuk.
"Seperti kita ketahui di tempat ini, kurang lebih setiap hari 5 ton, nanti bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk menghasilkan output yang akan bermanfaat bagi pertamanan dan juga yang lainnya, dan juga dengan Pupuk Indonesia," kata Pramono.
Dirinya percaya, pengolahan ini dapat membantu mengurangi beban gunungan sampah di TPST Bantargebang. Apalagi, mulai 1 Agustus 2026, TPST Bantargebang hanya menerima sampah residu.
"Saya meyakini kalau program ini bisa dijalankan maka ini akan sangat bermanfaat baik untuk mengurangi beban pengiriman sampah dari pasar ke Bantargebang," ucapnya.