"Dari hasil rekaman CCTV tersebut yang telah dikeluarkan oleh Pusinafis Mabes Polri dinyatakan bahwa dari kami masih belum bisa memberikan data yang lengkap atau kandidat yang jelas karena CCTV yang diberikan masih buram. Kedua dimungkinkan karena terduga pelaku dalam kejadian ini masih di bawah umur belum melakukan rekam digit e-KTP sehingga menambah kendala atau hambatan di rangkaian penyelidikan yang kita lakukan," kata Luthfi kepada wartawan, Senin (20/5/2024).
"Kemudian hasil dari labfor terkait dengan DNA yang terdapat dibarang bukti ternyata hasil dari labfor tidak ditemukan DNA lain yang diduga milik pelaku oleh karena itu kami masih berusaha untuk mencari kembali barang bukti atau alat bukti lain yang nanti akan mendukung rangkaian penyelidikan kami untuk menentukan kandidat mana yang sudah muncul untuk kami tetapkan tersangka," sambungnya.
Adapun langkah berikutnya, polisi akan mencoba kembali melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi. Hal ini dilakukan untuk mencari benang merah kepada sosok kandidat terduga pelaku.
"Kalau untuk saksi yang kita periksa sudah ada 34 saksi yang sudah kita ambil keterangannya terdiri dari teman dekat korban, teman sekolah, keluarga dan kerabat korban. Kemudian dari beberapa orang yang kita periksa tersebut ada 5 kandidat yang sedang kita kerucutan namun belun ada bukti pendukung yang kuat untuk menetapkan kandidat sebagai tersangka. Kami masih mencoba lagi alat bukti yang lainnya kandidat-kandidat ini apakah bisa ditetapkan sebagai tersangka atau tidak," ungkapnya.
Lalu, tambah Luthfi, pihaknya akan berupaya melakukan pembuktian secara scientific dengan berkoordinasi dengan beberapa ahli yaitu ahlo psikologi forensik, ahli kriminolog san ahli gestur tubuh. Dimana, dalam rekaman CCTV terduga pelaku memiliki ciri khas tersendiri dengan tangan berpegang ke arah dagu dan cara jalan.